Skip to content

Kembali Tentang Ma’tsurat

August 24, 2007

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan hengkang dari dunia global. Hari ini bisa ngeblog lagi. Dan gak disangka dapat kejutan besar, meski ga sampe bikin jantung berdegub kencang. Ternyata ada yang say hello di blog ini, orangnya keren biasa disapa beta. Yup surprise, cause dia bekerja di sebelah meja saya๐Ÿ™‚

Kembali ke laptop . . . !

Hari ini aku ingin membajak lagi tulisan tentang wirid al-ma’turat bagian ke-2 dari situsnya al-ikhwan.net karena beberapa waktu lalu diblog ini pernah aku tampilkan tema yang sama untuk bagian ke-1, jadi rasanya ada utang kalau gak ada sambungannya. So, silahkan baca dan kasih komentar bila perlu.

Ikhwah wa akhwat fiLLAAH,

Permasalahan kedua yang ingin ana bahas berkaitan dengan tema wirid Al-Maโ€™tsurat adalah berkaitan dengan kayfiyyat (tatacara) membacanya, karena banyak orang yang mempertanyakan mengapa sebagian ikhwah ada yang membacanya sendiri-sendiri (dan ini disepakati kesunnahannya), namun adapula yang membacanya secara berjamaโ€™ah (bersama-sama) bukankah cara yang kedua ini termasuk bidโ€™ah?

Dalam kesempatan ini ana akan mencoba membahas (sesuai dengan kebiasaan ana) yaitu menjelaskan duduk permasalahan serta metode istinbath (pengambilan hukum) yang dilakukan para ulama salaf dari Al-Qurโ€™an & As-Sunnah. Dan setelah itu ana akan mencoba menjelaskan bagaimana sampai terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat di kalangan salaf) tentang masalah tsb.

Dan dalam masalah ini ana akan konsisten untuk menjelaskan duduk masalah ikhtilaf di kalangan mereka tsb sepanjang ia masih disandarkan pada dalil yang shahih. Dan sekali lagi, tsumma sekali lagi, ana akan konsisten mengajak ummat ini untuk mengetahui letak perbedaan pendapat tsb dan ana tidak akan mengarah-arahkan ummat pada satu pendapat tertentu atau kesimpulan tertentu yang ana pilih ataupun sesuai dengan pendapat Syaikh Fulan atau Lajnah Fulan yang โ€œlebih baikโ€ dari pendapat Si Fulan atau Hizb Fulan.

Sebab sebagaimana dikatakan oleh Fadhilatu Syaikh DR Yusuf Al-Qaradhawi โ€“hafizhahuLLAAH- bahwa terjadinya taโ€™ashub (fanatik) golongan & tafarruq di antara ummat [1] bukan disebabkan karena banyaknya kelompok, partai, dan hizb, melainkan pangkal mula dari para mutaโ€™ashshibin tsb adalah jika suatu kelompok sudah merasa dirinya โ€œpaling benarโ€ atau โ€œpaling berhakโ€ untuk menafsirkan atau menyimpulkan hukum dan kemudian mulai membawa โ€œpalu bidโ€™ahโ€ atau โ€œmukhalifu-sunnahโ€ untuk dipukulkan kepada mereka yang berbeda dengannya.

Kembali ke pokok tema kita hari ini. Tentang pendapat yang menganjurkan untuk dzikir secara sendiri-sendiri dengan tidak berjamaโ€™ah atau tidak dalam satu suara, ana tidak akan membahasnya disini, karena insya ALLAAH hal ini sudah muttafaq โ€˜alayh (disepakati adanya). Namun yang akan ana bahas adalah mengenai adakah dalilnya bagi mereka yang berdzikir secara berjamaโ€™ah menurut Al-Qurโ€™an, As-Sunnah serta mafahim Ulama Salafus Shalih? Jawabannya bi-idzniLLAAH adalah sbb;

DALIL AL-QURโ€™AN DAN TAFSIRNYA:

ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุทู’ุฑูุฏู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุบูŽุฏูŽุงุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุดููŠู‘ู ูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุญูุณูŽุงุจูู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกู ูˆูŽู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูุณูŽุงุจููƒูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกู ููŽุชูŽุทู’ุฑูุฏูŽู‡ูู…ู’ ููŽุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธู‘ูŽุงู„ูู…ููŠู†ูŽ

โ€œDan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).โ€ [2]

Berkata Imam Abu Jaโ€™far dalam tafsirnya [3], para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna โ€œad-duโ€™aโ€ yang dipanjatkan oleh para kaum dhuโ€™afa tsb. Ada yang memaknainya shalat fardhu, ada yang memaknainya tempat di-shaff belakang saat shalat berjamaโ€™ah, dan ada yang memaknainya PARA AHLI DZIKIR, dan ada pula yang memaknainya mempelajari Al-Qurโ€™an & membacanya, dan ada pula yang mengartikannya ibadah mereka. Lalu Imam At-Thabari menguatkan bahwa maknanya adalah berdoa kepada ALLAAH baik dengan memujinya, mensucikannya baik melalui lisan dan perbuatan [4].

ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑู’ ู†ูŽูู’ุณูŽูƒูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุบูŽุฏูŽุงุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุดููŠู‘ู ูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ุฏู ุนูŽูŠู’ู†ูŽุงูƒูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ ุชูุฑููŠุฏู ุฒููŠู†ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูุทูุนู’ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุบู’ููŽู„ู’ู†ูŽุง ู‚ูŽู„ู’ุจูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฐููƒู’ุฑูู†ูŽุง ูˆูŽุงุชู‘ูŽุจูŽุนูŽ ู‡ูŽูˆูŽุงู‡ู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ู ููุฑูุทู‹ุง

โ€œDan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.โ€ [5]

Imam Abu Jaโ€™far berkata bahwa maknanya ialah: โ€œBersabarlah engkau wahai Muhammad bersama para sahabatmu dalam bertasbih, bertahlil, bertahmid, berdoa dan beramal shalih (baik dengan shalat fardhu maupun sunnah) yang kesemuanya itu untuk mengharapkan keridhoan ALLAAH SWT dan tidak mengharapkan dengan semua perbuatan tsb keuntungan sesaat di dunia saja.โ€ [6]

Berkaitan dengan makna yang kita pilih (dzikir bersama dalam satu majlis) dalam konteks ini Imam Abu Jaโ€™far โ€“rahimahuLLAAH- meriwayatkan sebuah hadits sbb; โ€œTelah menceritakan kepada kami Ar-Rabiโ€™ bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahhab, mengkabarkan padaku Usamah bin Zaid, dari Abu Hazim, dari AbduRRAHMAN bin Sahl bin Hunaif, dari AbduRRAHMAN bin Sahl bin Hunaif berkata bahwa ayat ini turun saat nabi SAW sedang berada di salah satu rumah istrinya, maka beliau SAW segera keluar dan menemui suatu kaum sedang sama-sama berdzikir kepada ALLAAH SWT, dstโ€ฆ, lalu beliau SAW ikut duduk bersama merekaโ€ฆโ€ [7]

Imam โ€“ Muhyis Sunnah – Abu Muhammad Al-Baghawi juga meriwayatkan hadits senada dengan ini dalam tafsirnya[8] dari Qatadah RA: โ€œAyat ini turun berkenaan dengan Ahlus Shuffah, yaitu sekitar 700 orang shahabat di masjid nabi SAW yang (tidak punya pekerjaan tetap), tidak berdagang, tidak bertani & tidak memerah susu, sehingga mereka sering menyambung shalat & menunggu antara waktu-waktu shalat menunggu (dengan berdzikir & berdoa), dst.โ€ [9]

DALIL AS-SUNNAH DAN SYARAH-NYA:

ุฅูู†ู‘ูŽ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู„ุงูŽุฆููƒูŽุฉู‹ ูŠูŽุทููˆูููˆู†ูŽ ููู‰ ุงู„ุทู‘ูุฑูู‚ู ุŒ ูŠูŽู„ู’ุชูŽู…ูุณููˆู†ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ุฐู‘ููƒู’ุฑู ุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ูˆูŽุฌูŽุฏููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุชูŽู†ูŽุงุฏูŽูˆู’ุง ู‡ูŽู„ูู…ู‘ููˆุง ุฅูู„ูŽู‰ ุญูŽุงุฌูŽุชููƒูู…ู’ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูŠูŽุญููู‘ููˆู†ูŽู‡ูู…ู’ ุจูุฃูŽุฌู’ู†ูุญูŽุชูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง . ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ูู‡ูู…ู’ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู‡ู’ูˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุนูุจูŽุงุฏูู‰ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ูŠูุณูŽุจู‘ูุญููˆู†ูŽูƒูŽ ุŒ ูˆูŽูŠููƒูŽุจู‘ูุฑููˆู†ูŽูƒูŽ ุŒ ูˆูŽูŠูŽุญู’ู…ูŽุฏููˆู†ูŽูƒูŽ ูˆูŽูŠูู…ูŽุฌู‘ูุฏููˆู†ูŽูƒูŽ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ู‡ูŽู„ู’ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู†ูู‰ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู„ุงูŽ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูˆู’ูƒูŽ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ูˆูŽูƒูŽูŠู’ููŽ ู„ูŽูˆู’ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู†ูู‰ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู„ูŽูˆู’ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ูƒูŽ ูƒูŽุงู†ููˆุง ุฃูŽุดูŽุฏู‘ูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู‹ ุŒ ูˆูŽุฃูŽุดูŽุฏู‘ูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุชูŽู…ู’ุฌููŠุฏู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุชูŽุณู’ุจููŠุญู‹ุง . ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ููŽู…ูŽุง ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููˆู†ูู‰ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููˆู†ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูˆูŽู‡ูŽู„ู’ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู„ุงูŽ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุง ุฑูŽุจู‘ู ู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู‡ูŽุง . ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ููŽูƒูŽูŠู’ููŽ ู„ูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู„ูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู‡ูŽุง ูƒูŽุงู†ููˆุง ุฃูŽุดูŽุฏู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุญูุฑู’ุตู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฃูŽุดูŽุฏู‘ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุทูŽู„ูŽุจู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฃูŽุนู’ุธูŽู…ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุฑูŽุบู’ุจูŽุฉู‹ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู…ูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุชูŽุนูŽูˆู‘ูŽุฐููˆู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู . ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูˆูŽู‡ูŽู„ู’ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู„ุงูŽ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู‡ูŽุง . ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ููŽูƒูŽูŠู’ููŽ ู„ูŽูˆู’ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู„ูŽูˆู’ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ู‡ูŽุง ูƒูŽุงู†ููˆุง ุฃูŽุดูŽุฏู‘ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ููุฑูŽุงุฑู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฃูŽุดูŽุฏู‘ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ู…ูŽุฎูŽุงููŽุฉู‹ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ููŽุฃูุดู’ู‡ูุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูู‰ ู‚ูŽุฏู’ ุบูŽููŽุฑู’ุชู ู„ูŽู‡ูู…ู’ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู…ูŽู„ูŽูƒูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ุงูŽุฆููƒูŽุฉู ูููŠู‡ูู…ู’ ููู„ุงูŽู†ูŒ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ู„ูุญูŽุงุฌูŽุฉู . ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ุฌูู„ูŽุณูŽุงุกู ู„ุงูŽ ูŠูŽุดู’ู‚ูŽู‰ ุจูู‡ูู…ู’ ุฌูŽู„ููŠุณูู‡ูู…ู’

โ€œSesungguhnya ALLAAH SWT memiliki para Malaikat yang selalu berkeliling kemana-mana untuk mencari para Ahli Dzikir, apabila mereka menjumpai SEKELOMPOK KAUM YANG SEDANG BERDZIKIR kepada ALLAAH SWT maka merekapun saling berseru: Ayo kesini! Inilah kebutuhan yang kita cari! Lalu merekapun membentangkan sayap & menyelimuti mereka dengan sayap-sayapnya hingga sampai ke langit dunia. Maka ALLAAH SWT bertanya pada mereka (padahal IA lebih mengetahui dari mereka): Apa yang dikatakan oleh para hamba-hamba-KU itu? Maka jawab para malaikat: Mereka semua bertasbih, bertakbir, bertahmid memuliakan ENGKAU. Maka ALLAAH SWT berfirman: Apakah mereka bisa melihat-KU? Maka jawab para malaikat: Tidak demi ALLAAH mereka tidak bisa melihat-MU. Maka firman ALLAAH SWT: Bagaimana jika mereka bisa melihat-KU? Jawab Malaikat: Jika mereka dapat melihat-MU maka mereka akan lebih hebat lagi beribadah, memuliakan, bertasbih. Maka firman-NYA: Apa yang mereka minta? Jawab Malaikat: Mereka meminta Jannah. Firman-NYA: Apakah mereka sudah melihatnya? Jawab malaikat: Belum demi ALLAAH mereka belum pernah melihatnya. Maka firman-NYA: Bagaimana jika mereka melihatnya? Jika mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan lebih lagi menginginkan, memintanya dan mengejarnya. Firman-NYA: lalu terhadap apa mereka meminta perlindungan? Jawab Malaikat: Terhadap neraka. Firman-NYA: Apakah mereka sudah melihatnya? Jawab Malaikat: Belum demi ALLAAH mereka belum pernah melihatnya. Maka firman-NYA: Bagaimana jika mereka melihatnya? Jika mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan lebih lagi melarikan diri, merasa takut kepadanya. Firman-NYA: Maka saksikanlah oleh kalian bahwa aku telah mengampuni mereka semua. Maka berkata salah satu Malaikat: Disana ada Fulan yang bukan termasuk mereka, ia Cuma datang karena ada keperluan saja. Firman-NYA: Mereka ada dalam satu majlis, maka tidak rugilah orang yang ada dalam majlis tsb.โ€ [10]

Berkata Imam โ€“Al-Hafizh- Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam syarah-nya atas hadits ini sbb: โ€œBahwa yang dimaksud majlis Dzikir adalah majlis berdzikir kepada ALLAAH SWT seperti bertasbih, bertakbir, tilawah Qurโ€™an, berdoa untuk kebaikan dunia & akhirat, membacakan hadits-hadits Nabi SAW, mempelajari ilmu-ilmu syariat, berkumpul untuk melakukan shalat sunnah, dstโ€ฆ (sampai kata-katanya) dan ini menunjukkan keutamaan Majlis Dzikir dan MAJLIS ORANG-ORANG YANG BERDZIKIR dan KEUTAMAAN BERKUMPUL UNTUK MELAKUKAN ITU SEMUA.โ€ [11]

Berkata Imam Ibnu Baththal dalam syarah-nya: โ€œDzikir itu ada dua macam. Pertama adalah dengan mengingat perintah & larangan-NYA, dan kedua adalah berdzikir dengan lisan. Kedua jenis dzikir tsb mendapatkan pahala.. dst, sampai kata-katanya: Keutamaan pada keduanya itu, pahala & kemuliaannya itu lebih besar lagi jika melakukannya secara bersama-sama (ijtimaโ€™)โ€ฆโ€ [12]

ู„ุงูŽ ูŠูŽู‚ู’ุนูุฏู ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุญูŽูู‘ูŽุชู’ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽู„ุงูŽุฆููƒูŽุฉู ูˆูŽุบูŽุดููŠูŽุชู’ู‡ูู…ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽู†ูŽุฒูŽู„ูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู ุงู„ุณู‘ูŽูƒููŠู†ูŽุฉู ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠู…ูŽู†ู’ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู

โ€œTidaklah duduk suatu kaum untuk berdzikir kepada ALLAAH โ€˜Azza wa Jalla, kecuali Malaikat menutupi mereka (dengan sayap-sayap mereka), mereka pun diliputi oleh kasih sayang ALLAAH SWT, dan turun ketenangan dari sisi ALLAAH dan ALLAAH menyebut (nama-nama) mereka di kalangan para malaikat yang disisi-NYA.โ€ [13]

Berkata Imam An-Nawawi โ€“rahimahuLLAAH- dalam kitab syarah-nya sbb [14]: โ€œDalam hadits ini jelas disebutkan tentang keutamaan berdzikir & keutamaan Majlis-majlis untuk itu, duduk-duduk bersama ahli dzikir sekali pun ia tidak BERDZIKIR BERSAMA-BERSAMA MEREKA, serta keutamaan majlis orang-orang shalih serta barakah bersama mereka, waLLAAHu aโ€™lam.โ€

ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุธูŽู†ู‘ู ุนูŽุจู’ุฏูู‰ ุจูู‰ ุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู†ูู‰ ุŒ ููŽุฅูู†ู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู†ูู‰ ููู‰ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ุฐูŽูƒูŽุฑู’ุชูู‡ู ููู‰ ู†ูŽูู’ุณูู‰ ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู†ูู‰ ููู‰ ู…ูŽู„ุฃู ุฐูŽูƒูŽุฑู’ุชูู‡ู ููู‰ ู…ูŽู„ุฃู ุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽู‰ู‘ูŽ ุจูุดูุจู’ุฑู ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจู’ุชู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฐูุฑูŽุงุนู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽู‰ู‘ูŽ ุฐูุฑูŽุงุนู‹ุง ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจู’ุชู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูŽุงุนู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุชูŽุงู†ูู‰ ูŠูŽู…ู’ุดูู‰ ุฃูŽุชูŽูŠู’ุชูู‡ู ู‡ูŽุฑู’ูˆูŽู„ูŽุฉู‹

โ€œBerfirman ALLAAH SWT (dalam hadits Qudsiy): AKU tergantung prasangka hamba-KU terhadap-KU, dan aku bersamanya jika ia mengingat-KU, jika ia mengingat-KU di dalam hatinya maka aku mengingatnya di dalam hati-KU, dan jika ia mengingat-KU DALAM SUATU KELOMPOK maka AKU mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka, dan jika ia mendekat sejengkal maka AKU mendekat padanya sehasta, jika ia mendekat sehasta maka AKU mendekat padanya sedepa, dan jika ia mendekat pada-KU dengan berjalan maka AKU mendekat padanya dengan berlari.โ€ [15]

Berkata Imam Ibnu Hajar bahwa makna โ€œMalaโ€™inโ€ adalah jamaโ€™ah [16]; demikian pula pendapat Imam Al-Aini dlm syarah-nya terhadap hadits ini [17]. Pengarang Tuhfatul Ahwadzi menambahkan [18]: โ€œYaitu berdzikir bersama jamaโ€™ah kaum muslimin ataupun di hadapan mereka.โ€ Sekedar menambahkan sampai Imam An-Nawawi โ€“rahimahuLLAAH- dalam kitabnya yang terkenal Riyadhus-Shalihin mengumpulkan beberapa hadits dalam bab [19] yang diberinya judul โ€œKeutamaan Halaqah Dzikir & Disunnahkan Komitmen Dengannya Serta Dilarang Memisahkan Diri Darinya Tanpa Adanya Uzurโ€, tentunya kita memahami bahwa yang disebut halaqah dzikir bisa dimaknai orang yang berdzikir bersama-sama dalam satu jamaโ€™ah, sekalipun makna berdzikir sendiri-sendiri di suatu tempat bisa juga diterima.

Demikianlah wahai ikhwah wa akhawat fiLLAAH, aโ€™anakumuLLAAHa jamiโ€™an, apa yang ana sampaikan ini tidaklah berarti menafikan keutamaan dzikir masing-masing (munfarid), bahkan sebenarnya inilah yang lebih utama & lebih sering dilakukan oleh kalangan Salaf. Namun jikapun ada yang melakukannya secara bersama-sama maka hendaklah tidak dianggap bidโ€™ah, karena masalah ini merupakan makanul-khilaf, karena sebagaimana saya tunjukkan bahwa dalil-dalil yang ada masih memungkinkan adanya perbedaan dalam penafsiran, sehingga yang dapat kita lakukan adalah memilih salah satu pendapat yang lebih kuat (berdasarkan penelitian) tapi menghormati bagi yang ingin memilih pendapat yang lain.

WaLLAAHu aโ€™lamu bish Shawaabโ€ฆ

Catatan Kaki:

[1] Lih. Kitab beliau Ash-Shahwah Al-Islamiyyah Bayna Al-Ikhtilaf Al-Masyruโ€™ wat Tafarruq Al-Madzmum.

[2] QS Al-Anโ€™am, 6/52

[3] Imam At-Thabari, Jamiโ€™ul Bayan Fi Taโ€™wilil Qurโ€™an, XI/381

[4] Ibid, XI/387

[5] QS Al-Kahfi, 18/28

[6] Op.cit, XVIII/5

[7] Ibid, XVIII/6; Saya berkata: Hadits ini Rijal-nya di-taustiq oleh Imam Ibni Hajar Al-Haitsami dlm kitabnya Majmaโ€™uz Zawaโ€™id (VI/384, hadits no. 10998) sbb : โ€œHadits ini di-takhrij oleh Imam At-Thabrani dan Rijal-nya adalah Rijal Shahih.โ€

[8] Maโ€™alimut Tanzil, V/166

[9] Lih. Juga tafsir Ad-Durrul Mantsur, V/380 dan Ibnu Katsir, III/82

[10] Al-Jamiโ€™us Shahih Lil-Bukhari, XXI/252

[11] Fathul Bariโ€™ Libni Hajar, XVIII/212 no. 5929

[12] Syarh Ibnu Baththal, XIX/184

[13] Shahih Muslim, XVII/312, bab โ€œKeutamaan Ijtimaโ€™ (Berkumpul) Membaca Al-Qurโ€™an dan Berdzikirโ€

[14] Syarhun Nawawi โ€˜Ala Muslim, XVII/15

[15] HR Bukhari, XXIV/246 bab โ€œWa YuhadzdzirukumuLLAAHu Nafsahโ€ no. 7404; Muslim, XVII/253 bab โ€œAl-Hatstsu โ€˜Ala DzikriLLAAHi Taโ€™alaโ€ no. 6981

[16] Fathul Bariโ€™, XX/481 no. 6856

[17] Umdatul Qariy, XXXVI/38

[18] Tuhfatul Ahwadzi, VIII/500, no. 3527

[19] Riyadhus Shalihin, Kitabul Adzkar, Bab Fadhlu Halqudz Dzikri Wan Nadbu Ila Mulazamatiha, hal. 424

Oh ya, kalo sempat, tolong baca-baca juga literatur yang dicantumkan diatas. Jangan lupa kasih penjelasan kalo ada yang menarik.

From → Islam, Renungan

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: