Skip to content

Bukan di Negeri Dongeng

June 26, 2010

Apakah Anda memiliki banyak teman yang mempunyai sifat dan sikap yang bagi Anda terasa sangat mengesankan dan istimewa? Adakah Anda mengenal orang yang memiliki ahlak sangat mulia, misalnya sangat adil, jujur, penuh cinta, mementingkan orang lain dan sebagainya?

Mungkin Anda akan menjawab dengan mata berbinar, “Ya”. Tapi bisa jadi setelah berpikir keras, mengingat-ingat, Anda terpaksa mengatakan, “Tidak. Saya nggak punya teman seperti itu”, atau: “Orang seperti itu kan hanya ada di jaman dahulu kala, jaman para nabi!” Sementara diam-diam Anda menyimpan rindu. Begitu mendera-dera. Lantas tiba-tiba Anda pun bergumam, “Bukan sekadar teman. Bahkan negeri ini sangat membutuhkan orang-orang seperti itu!”

Ya, negeri ini! Tapi apa mereka benar ada? Di negeri dongeng manakah mereka tinggal? Jangan pesimis dulu. Melalui sebuah buku karya Helvi Tiana Rosa dkk, Anda akan diajak untuk berkenalan dan bertemu dengan sosok-sosok luar biasa! Seperti itu. Anda tak percaya? Tidak, ini bukan cerita fiktif dari negeri dongeng mana pun. Mereka memang sungguh ada, bahkan tak jauh dari Anda! Ditulis oleh lebih dari 25 orang, buku tersebut memaparkan kisah-kisah keseharian yang mencengangkan dari mereka yang disebut oleh penulisnya sebagai ‘pejuang keadilan’.

Pernahkah terbayang dalam benak Anda, suatu hari dalam kehidupan Anda, datang sepasang suami istri sederhana yang belum lama Anda kenal tiba-tiba menghadiahkan Anda sebuah laptop hanya karena mereka merasa bahwa suatu ketika Anda akan menjadi seorang penulis? Padahal saat itu Anda bahkan belum menulis apa pun yang berarti?

Pernah bertemu dengan dia yang memiliki prinsip untuk selalu menjadi orang pertama yang menolong orang lain meski tak bisa membeli susu bagi anaknya? Pernah tahu ada ibu empat anak, pengidap kanker rahim yang sangat kekurangan secara ekonomi, tetapi selalu terdepan membantu mereka yang terkena musibah

Bisakah Anda bayangkan bila suami Anda yang bertugas di DPR hanya mau mengambil gaji secukupnya dan selebihnya dikembalikan pada rakyat? Atau kala ia mendapat uang ratusan juta rupiah yang dikatakan sebagai haknya, ia malah mengembalikannya kepada rakyat di sekitarnya dengan cara yang sederhana? Bagaimana segelintir pejabat yang jujur menyelamatkan ratusan milyar uang negara dalam rapat-rapat yang alot? Bagaimana perasaan Anda, bila tiba-tiba ada seorang pejabat memilih tidur di sebuah rumah petak beralaskan tikar, hanya karena empatinya yang besar terhadap masyarakat? Kenal wakil rakyat yang tak mempan suap, yang bertekad membela kebenaran dan keadilan meski setiap hari menerima ancaman pembunuhan? Pernah bertemu dengan seorang presiden yang secara rutin menyapu dan membakar sampah untuk kenyamanan lingkungannya? Punya kenalan pemimpin yang sering membantu istrinya belanja sayur? Atau ibu pejabat yang berebut melakukan kebajikan? Pernah berdoa agar ada lelaki tulus yang mau menghabiskan waktunya mendekati para ‘sampah masyarakat’ yang seabreg itu dan mengubah mereka menjadi berarti?

Lalu apa Anda mengetahui, bahwa ada seorang anggota Komisi Pemilihan Umum yang ternyata harus ‘berjuang’ berkali-kali untuk sekadar mengembalikan kijang yang dipakainya selama bertugas? Ingin tahu kisah seorang dokter yang membangun sebuah desa di pedalaman? Lalu kisah para penghuni sebuah pondok cinta yang terdiri dari mahasiswi, tuna netra, mbok bakul jamu, dan lain-lain yang saling peduli? Tahukah Anda bahwa seorang ustadz muda dari negeri ini saat bertemu George Bush, dengan berani dan simpatik menasehati Presiden Amerika itu? Siapa dia?

Bahkan bila Anda ingin punya seribu teman atau ingin mengetahui bagaimana menyongsong kematian dengan indah, serta hal-hal penting lainnya, semua ada dalam buku yang sangat menyentuh tersebut.

Sungguh, tak berlebihan bila dikatakan oleh penulisnya bahwa Bukan di Negeri Dongeng (BdND) akan mengasah nurani dan meninggalkan sesuatu di batin Anda usai membacanya: pencerahan, getaran, rasa takjub, cinta dan dorongan untuk berbuat serupa.

Silahkan membeli dan membaca buku “Bukan di Negeri Dongeng” karya Helvy Tiana Rosa dkk, untuk merasakan haru-biru bertemu tokoh-tokoh yang seolah hanya ada dalam mimpi.

From → Opini, Renungan, Traveling

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: