Skip to content

Bisnis Hotel Berkonsep Syariah

July 17, 2010

Sekitar tahun 1980-an, di Jalan Saharjo_Tebet_Jakarta Selatan ada sebuah hotel yang memiliki klub malam bernama “Santai Music Club”. Tamu-tamu akan dimanjakan dengan perempuan-perempuan cantik yang siap menemani tamu sampai ke dalam kamar hotel.

Para lady companion (LC) itu duduk-duduk di dalam sebuah ruangan yang bisa dilihat dari luar. Mereka seperti di dalam aquarium. Mereka bertugas menemani tamu di klub malam bahkan bisa dibooking ke luar.

Selain memiliki klub malam dan karaoke, hotel yang terletak di depan Universitas Sahid itu, juga memiliki diskotek dan panti pijat. Karena memiliki akomodasi hiburan yang lumayan lengkap, banyak para penikmat hiburan malam yang berkunjung ke kawasan hotel tersebut. Apalagi tarif menginap di hotel tersebut relatif murah, yakni Rp 180 ribuan per malam.

Karena tarifnya yang murah, banyak tamu yang memanfaatkan hotel tersebut hanya untuk tempat berkencan saja. Hotel itu lebih sering dipakai untuk kencan short time aja, karena harganya murah.

Kondisi tersebut diakui Riyanto Sofyan, pemilik grup Hotel Sofyan. Riyanto tidak menampik kalau hotel miliknya yang ada di wilayah Tebet tersebut, dahulu kerap dijadikan sasaran bagi pria hidung belang atau para penikmat hiburan malam. Menurut Riyanto, di antara hotel-hotel Grup Sofyan, Hotel Sofyan Tebet tingkat huniannya yang paling tinggi. Sementara Hotel Sofyan Cikini serta Hotel Sofyan Betawi, tingkat huniannya biasa-biasa saja.

“Kalau di Hotel Sofyan Tebet, satu kamar saja yang check-in bisa 2 sampai 3 tamu. Mereka umumnya hanya memakai kamar untuk berkencan singkat saja,” ungkap Riyanto.

Namun, kondisi Hotel Sofyan Tebet kini jauh berbeda. Semua itu dimulai dengan penutupan Santai Music Club pada 1998. Setahun kemudian, giliran diskotek Terminal dan panti pijat yang ada di hotel tersebut ditiadakan. Lenyapnya tempat-tempat hiburan tersebut terang saja berpengaruh terhadap tingkat hunian hotel saat itu. Bayangkan, dari 140 persen tingkat hunian di hotel tersebut melorot tinggal 40 persen saja. Kondisi ini bertahan hingga 2 tahun lamanya.

Perubahan drastis yang dilakukan pemilik terhadap Hotel Sofyan Tebet sengaja dilakukan. Orang tua dari artis Marshanda tersebut, ingin merubah konsep hotel yang sarat hiburan malam menjadi hotel berkonsep syariat atau sesuai dengan norma keislaman. Dijelaskan Riyanto, dirinya mulai merubah konsep hotel setelah mendapat supervisi dari Salim Segaf Al Jufri, yang saat ini menjadi Menteri Sosial.

“Saya mulai kenal Pak salim Segaf sejak 1994, waktu itu beliau masih jadi dubes dan belum ada Partai keadilan Sejahtera (PKS),” jelas Riyanto.

Selama 4 tahun mengaji ke Salim Segaf, membuat pandangan Riyanto tentang pengelolaan hotel berubah drastis. Sejak saat itu ia menyadari bahwa untuk memajukan bisnis perhotelan tidak selalu dekat dengan alkohol atau seks.

Memang diakui Riyanto, awal perubahan yang dilakukan terhadap Hotel Sofyan Tebet berpengaruh terhadap penghasilan hotel tersebut. Banyak tamu langganan yang bertanya, “Ini hotel atau masjid”. Sebab jangankan tempat hiburan, minuman beralkohol pun tidak lagi bisa dijumpai. Akhirnya para pelanggan pun angkat kaki selamanya. Tapi hal itu bukan berarti bisnis Hotel Sofyan tamat. Hotel Sofyan Cikini dan Cut Meutia, juga menerapkan sistem pengelolaan dengan konsep syariat.

“Ketika tingkat hunian hotel yang di tebet turun, tingkat hunian Hotel Sofyan Cikini dan Betawi meningkat sekitar 15-30 persen. Jadi, secara kumulatif kerugian di Hotel Sofyan Tebet bisa ditutupi,” terangnya.

Selanjutnya, untuk menormalisasi penghasilan hotel miliknya yang ada di Tebet, Riyanto kemudian merogoh kocek sebesar Rp 2 miliar pada 2001, untuk melakukan renovasi ruangan-ruangan di hotel tersebut. Selain membenahi kamar hotel, pengelola juga menyulap ruangan yang sebelumnya jadi klub malam dan diskotek sekarang menjadi ruang meeting. Dengan renovasi yang dilakukan, penghasilan dari Hotel Sofyan Tebet saat ini kembali seperti dahulu. Konsep hotel untuk hiburan malam kini berganti dengan konsep hotel untuk pertemuan bisnis.

“Meski tingkat hunian sekitar 80 persen tapi ratenya Rp 280 ribu nett. Jadi kalau dihitung-hitung sama saja,” ujarnya.

Hotel Sofyan Grup kini makin yakin kalau hotel berbasis syariat, yang tidak dianggap menarik oleh hotel lain, justru bukan ancaman omset akan menurun. Hotel syariat ternyata punya pasar yang cukup menjanjikan. Tentu saja tanpa esek-esek, alkohol dan narkoba. “Justru dengan konsep syariat ini, tamu atau keluarga merasa nyaman dan aman menginap. Tidak ada alkohol atau tempat hiburan yang berbau maksiat, maka kenyamanan mereka jadi terjaga,” ujar Riyanto.

Kini setiap masuk waktu sholat selalu terdengar suara azan dari dalam ruang kamar di Hotel Sofyan Tebet. Suara azan itu bukan berasal dari masjid atau musolah yang ada di sekitar hotel. Melainkan dari speaker kecil yang ada di dalam hotel. Pengelola hotel sengaja diperdengarkan suara azan untuk mengingatkan seluruh penghuni hotel kalau waktu salat sudah tiba.

Fasilitas pengingat waktu salat di dalam hotel, bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh. Tapi inilah salah satu standar yang harus dimiliki bagi hotel yang memiliki sertifikat ‘halal’ dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hotel Sofyan memang salah satu dari dua hotel yang memiliki sertifikat halal MUI. Satu hotel lainnya yang memiliki sertifikat tersebut adalah Hotel Tuara Natama di Padang Sidempuan, Sumatera Utara.

“Sekarang memang banyak yang mengklaim hotel syariah, tapi hanya dua hotel yang memiliki sertifikasi syariah dari MUI,” begitu kata anggota Dewan Syariah Nasional MUI Endy M Astiwara kepada wartawan belum lama ini.

Endy menjelaskan, untuk mendapatkan status hotel syariah, maka hotel tersebut harus mencantumkan di anggaran dasar dan rumah tangga (AD/ART) perusahaan hotel tersebut sebagai hotel syariah. Secara prinsip, kriteria hotel syariah adalah tidak memberikan layanan apapun yang bertentangan dengan syariah agama seperti tak mengizinkan menginap pasangan bukan muhrim, tak menyediakan minuman beralkohol dan makanan hotel yang terjamin halal. Bukan hanya akomodasi yang dimiliki hotel yang harus mengacu pada syariat. Untuk urusan perbankan, pengelola hotel juga diwajibkan memanfaatkan fasilitas perbankan syariah.

“Pokoknya semuanya harus sesuai dengan ketentuan yang digariskan MUI supaya mendapat labelilasi halal,” jelas Endy.

Riyanto Sofyan, pemilik Hotel Sofyan Grup, hotel-hotel yang dikelolanya sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI sejak 2003 lalu. Sementara masa pengajuan untuk mendapatkan sertifikat tersebut dilakukan pada 2000, yakni saat hotel tersebut mulai merubah konsep layanan hotel dari sebelumnya.

Karena sudah berkonsep syariah, Hotel Sofyan kini menerapkan aturan-aturan dalam hal pelayanan kepada setiap tamu. Misalnya, apabila ada orang yang mau menemui tamu ke dalam hotel, resepsionis harus memastikan dulu apakah tamu memang bersedia menjumpainya. Bila yang datang seorang perempuan dan yang menginap adalah tamu laki-laki maka petugas hotel akan meminta pertemuan dilakukan di lobi. Kecuali orang yang datang tersebut keluarga atau pasangan dari tamu. Penerapan aturan ini, kata Riyanto, bukan sekadar untuk menerapkan sistem syariat. Tapi juga untuk menjaga kenyamanan tamu.

“Bisa jadi tamu yang menginap sedang tidak mau diganggu karena sedang ingin istirahat,” ujarnya.

Dijelaskan Riyanto, sebenarnya masyarakat tidak perlu alergi dengan hotel syariat. Sebab hotel berkonsep ini justru sesuai dengan aturan yang diterapkan pemerintah dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Hanya saja, dalam hotel syariat ada tambahan aturan maupun perlengkapannya.

Misalnya, tamu yang chek-in, khususnya bagi yang lawan jenis dilakukan seleksi tamu. Seleksi yang dilakukan untuk mengetahui apakah pasangan tersebut merupakan suami istri atau bukan. Namun masalahnya, tidak semua tamu membawa surat nikah.

Untuk mengatasi hal ini, imbuh Riyanto, pihaknya akan memperhatikan gelagat dan penampilan dari tamu yang akan check-in. Misalnya dari dandanannya atau selisih usia dari tamu tersebut. Jika dirasa tidak lajim maka petugas hotel tidak memperkenankan pasangan tersebut menginap di hotel tersebut.

Selain menyeleksi tamu, pengelola juga harus memberikan akomodasi yang tidak bertentangan dengan syariat misalnya, tidak ada minuman beralkohol serta makanan yang halal. Untuk mengantisipasi selera tamu yang sudah terbiasa dengan minuman beralkohol, pengelola berusaha melakukan cara-cara tersendiri. Salah satunya tetap menyediakan minuman coktail, seperti Margarita atau Long Island, tapi berbahan herbal yang bebas alkohol.

“Rasanya sama dengan margarita pada umumnya. Namun bahannya kita gunakan herbal,” terang Ryanto.

Bukan hanya makanan dan minuman, pengelola hotel berlabel halal ini juga wajib untuk tidak menempatkan ornamen dari mahluk-makhluk bernyawa. Sebagai gantinya, pengelola mendekorasi aneka lukisan tumbuh-tumbuhan, panorama atau kaligrafi untuk memperindah ruangan hotel.

Riyanto mengaku tidak merasa khawatir dengan konsep hotel syariat yang dijalankannya akan berakibat sepinya tamu yang menginap. Sebaliknya, dia merasa yakin justru pasar hotel syariat sangat terbuka lebar. Sebab banyak masyarakat yang menginginkan hotel dengan pengelolaan yang normal alias tidak mengedepankan layanan hiburan semata.

“Di Jakarta, tamu yang menginap di hotel umumnya untuk kepentingan bisnis, misalnya pelatihan atau seminar. Bukan tempat liburan. Karena itulah kami membidik pangsa bisnis sebagai sasaran pasar kami,” terang Riyanto.

Sumber : ditulis ulang dari artikel-artikel Detiknews

From → Ekonomi, Islam, Opini, Renungan

One Comment
  1. Assalamualaikum wrwb.
    Melengkapi KABOKI House of Crochet & RestoHalal SATEIWAK yang telah dibuka pada Desember 2010 yg lalu, Hotel KABOKI MADANI yang berbasis syariah insyaAllah direncanakan akan menyusul dibuka pada pertengahan 2011. Terletak di lokasi strategis, hanya 200m dari bundaran Simpang Siur/Monumen Dewa Ruci ,Kuta- Bali. Jujur,insyaAllah karena kami yang akan terlibat di dalamnya dan “buta”akan hal itu,oleh sebab itu.mohon bantuannya untuk info ke kami bila ada yang mampu mengkosep secara profesional demi tegaknya sebuah syiar(NB:jgn mahal 2 ya…).InsyaAllah dapat menjadi rumah yang nyaman bagi sahabat Kaboki yang berlibur ke Bali. Welcome to Bali.Mohon do’a restu.
    Jazakumullah khoiron katsiron..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: